Jumat, 27 November 2015

Milky Way

I came outside to look at the sky
I see many constellations
And maybe planets, too
So much mysteries in this universe
That can't be solved

I wonder
I wonder what is up there
I wonder
I wonder what is in your heart

I see you
The milky way
With your greatness and hugeness
I'm part of you

You're like a milky way...

15-11-15

Sabtu, 12 September 2015

Summertime Ritual: Jogja 2015

Summer 2015, I decided to spent a holiday in Jogja. The city I've always wanted to spent my holiday long time ago. I've been there three times before visiting Jogja, however the first time was when I was I kid, while the second and the third time was just there for transiting. So, this 5-days-holiday was my fourth time in Jogja.

With Fadly

So, this is Fadly, my companion in Jogja. Fadly is a student of Universitas Gajah Mada, lived in Terban area in Jogja, so nothing to worry about the accomodation and transportation. We took train from Pasar Senen Station, Jakarta, and after 8 hour of rail trip we arrived Lempuyangan Station, Jogjakarta, at 5 AM. We took a rest for few hours at Fadly's place, had a breakfast, and then using motor scooter we went to Bantul area. First, we had a lunch at Depok Beach, we were tasting local seafood while our eyes looking to the sea and our ears hearing the waves. After having our senses pleasured, we went to Parangkusumo Sand Dunes, and watching sunset at Parangendog Hill. Those three tourist attractions are located in Parangtritis Beach area.

Seafood time!


 
Sunset at Parangkusumo

Another beaches time! The second day we managed to visit some beaches in Wonosari, southwestern of Jogja. But before that, we visited a place called Kebun Buah Mangunan in Imogiri. This is a popular photo spot for tourists, where you can see the hilly landscapes with a river splitting the hills from the heights. Simply beautiful. From Imogiri, we headed southwest to Wonosari, about 2 hours with motor scooter. We wanted to visit Nguyahan Beach, Ngobaran Beach, and Kukup Beach. But we need to race with the time, so we only went to Nguyahan Beach and Ngobaran Beach which is located next to each other. Nguyahan Beach was a calm beach where you can go for a swim or splash, while Ngobaran Beach was more extreme with big waves and steep hard rocks.
Selfie at Mangunan

Beach! Ngobaran 
Beach! Nguyahan

The next day, we met Fani, my college friend which coincidentally also in Jogja with her friends, Hafidz and Adrian. So I, Fadly, Fani, Hafidz, and Adrian, spent the day together, visiting some of historical sites in Jogja. We visited the historical Kraton Palace of Jogja and Taman Sari Water Castle. We also visited Ratu Boko Palace, which we can see a very beautiful sunset from the top. After the night came, we went to Bukit Bintang to had some light meals and close our day in Tugu area with kopi joss and "sego kucing", it translates to cat rice, but actually it was "rice in a portion for cats", it was really cheap, like with 10.000 Rupiahs you will get your stomach full.

Taman Sari Water Palace
Keraton
Ratu Boko
The famous Malioboro Street near Tugu Station

Fourth day! Still holiday! We went to jeJamuran restaurant, "Jejamuran" roughly translated to "everything is mushrooms". Like it's name, all of the menus here is made of mushrooms. It was a very good experience for mushroom lover like me, especially when I tasted Es Dawet with mushroom. We also visited Malioboro Street, my favorite street, shopping for souvenirs, and at night we ate gudeg at Gudeg Sagan Restaurant, not the best gudeg, but still delicious, I prefer the gudeg that I ate from street food stall in C. Simanjuntak Street the next day.

Mostly Mushrooms

Jogja has it all. Nature and culture. From highland landscapes to romantic beaches, from historical sites to cozy hangout place,
Jogja also has many tasty foods for gastro travelers out there. While I'm not into gastro traveling, but some of Jogja's food were really capturing my taste. Besides the tastiness of the foods, Jogja also, somehow, has nice ambience for your soul. Like eating roasted corn while seeing Jogja city lights from distance in Bukit Bintang, laughter and warmthness from friends when drinking Kopi Joss in the  angkringans, eating pecel in the middle of the crowd in  Beringharjo Market, also don't forget the seafood in  Depok Beach and the famously gudeg which can be found anywhere in Jogja.

Beautiful view from Kalibiru
Magical gamelan music
Tiwul
My favorite. Pecel at Beringharjo Market

So, my time in Jogja was lovely. Well, Jogja is lovely. Definitely will go back there.

Minggu, 23 Agustus 2015

Perjalanan Satu Hari Pangalengan - Rancabuaya

Rabu, 5 Agustus 2015. Bermodalkan keisengan dan kenekatan, Saya bersama teman saya Agung dan Ryan, memutuskan untuk pergi ke Pangalengan. Tujuan utamanya adalah hunting foto di perkebunan teh Pangalengan, Kabupaten Bandung, sekaligus mengunjungi obyek-obyek wisata yang berada di dekatnya.

Perjalanan dimulai dari pukul 4 pagi dari kost Agung di Dago, Bandung, menuju rumah Ryan di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Dari rumah Ryan, kami bertiga menggunakan mobil melewati Banjaran menuju Pangalengan. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Situ Cileunca. Kami beruntung sekali dapat menyaksikan matahari terbit dari balik danau kecil tersebut, lengkap dengan kabut tipis yang menyelimuti permukaan danau.


Sepanjang perjalanan mata kami dimanjakan dengan hijaunya kebun teh yang terbentang hampir di setiap sudut perbukitan. Kami sempat berhenti di suatu tanjakan dengan pemandangan kebun teh yang luas untuk berfoto kemudian melanjutkan lagi perjalanan ke sebuah villa di daerah Cukul, Pangalengan. Villa tersebut dinamakan Villa Merah. Villa tersebut dikelilingi kebun teh dan yang membuat spesial adalah kolam teratai yang ada di halamannya.



Setelah puas dengan perkebunan teh, kami memutuskan untuk mengunjungi Blue Lagoon Cisewu. Dari Cukul memerlukan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai di Blue Lagoon Cisewu. Blue Lagoon Cisewu merupakan sebuah kolam kecil yang dialiri air terjun kecil, terletak di pinggir jalan raya dari arah Pangalengan menuju Rancabuaya, air di sini berwarna biru jernih.


Merasa belum puas, akhirnya kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Pantai Rancabuaya yang terletak di selatan Kabupaten Garut. Menempuh jalan yang berkelok dan rawan longsor selama dua setengah jam akhirnya kami melihat laut dari kejauhan, itu dia Pantai Rancabuaya. Saat itu Pantai Rancabuaya sedang sepi karena memang bukan musim liburan. Pantai Rancabuaya memiliki pasir yang putih dan dihiasi batu-batuan karang di sepanjang pesisirnya. Dari saung-saung yang ada di sana kami melihat pemandangan laut, mendengarkan suara ombak yang menenangkan, di sini juga bisa terlihat kegiatan nelayan, anak-anak yang sedang bermain di pinggir pantai, juga warga setempat yang sedang memancing.


Akhirnya hari itu kami merasa puas dan memutuskan untuk pulang. Kami melalui jalur yang sama seperti tadi, via Pangalengan. Ketika sore hari jalanan cukup terasa menantang dikarenakan kabut tebal yang menghalangi jarak pandang, serta tikungan-tikungan tajam yang menuntut pengendara untuk berhati-hati. Meskipun lelah, tapi kami senang!

(All photos taken by Agung Dwi Prabowo)

Rabu, 08 Juli 2015

Hai Cantik

Hai Cantik,
Apa kabar di sana?
Belum lama kita tak berjumpa
Tapi aku akan segera meninggalkanmu

Jaga dirimu di sana
Baik lah kepada setiap orang
Aku mungkin akan kembali
Sesekali, tidak lama-lama

Hai Cantik,
Kasep dan geulis tidak harus selalu bersatu
Mungkin nanti ada waktunya
Mungkin juga tidak

Hai Cantik,
Jangan pernah hapus senyummu
Yang sejuk dan penuh warna
Merekah seperti kembang


Foto: dokumen pribadi

Rabu, 24 September 2014

2-0-1-4

Not a good year
Not a bad year
But some things are happened
Making this year is really precious

I am not sad nor happy
I am not excited nor frightened
I just lived it
Live the wonderful year 2014

There are 3 months left to go
What will happened next?

Senin, 25 Februari 2013

Trust

being given a trust is a responsibility
but it still better than not being trusted at all

it is suck when people around you, even the closest ones to you, don't even trust that you have capability to bear a responsibility
it is suck when you feel like you can't do anything

if you care, trust

Kamis, 21 Februari 2013

Kesan Haurseah (KKNM Unpad 2013)


            Saya selama bulan Januari – Februari ini mengikuti program wajib KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa) Unpad. Bersama teman-teman saya, baik teman yang sudah kenal sebelumnya maupun teman-teman baru mendapat lokasi KKN di desa Haurseah, kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Kami berangkat tanggal 15 Januari 2013 dari kampus Unpad Jatinangor. Setelah sekitar empat jam naik bus kami sampai di gerbang kecamatan, rupanya jalan menuju desa Haurseah masih sempit sehingga kami harus menyewa mobil pick up untuk dapat sampai di rumah tempat kami bakal tinggal sebulan ke depan. Rumah tempat kami tinggal adalah rumah milik warga desa, Pak Kirnan beserta istri dan anaknya yang tinggal di rumah tersebut namun selama kami menumpang, keluarga Pak Kirnan tinggal di rumah sebelah rumah kami. Rumah yang kami tempati sudah cukup modern, memiliki tiga kamar, dapur, kamar mandi, ruang tamu, dan ruang tengah yang luas. Walaupu rumah yang kami tempati cukup nyaman namun ada saja masalah bagi kami yang tidak biasa tinggal di desa, terutama masalah air dan sinyal untuk telepon seluler. Hari-hari pertama di desa Haurseah saya gunakan untuk mengenal desa dan warganya, seperti apa desa Haurseah? Bagaimana kehidupan dan kebiasaan warganya? Apa saja potensi desa? Serta membayangkan bagaimana jika saya menjadi penduduk desa Haurseah.

            Desa Haurseah terletak di kaki gunung Ceremai sehingga suhu udara di desa Haurseah dingin dengan kabut tebal yang sering menyelimuti desa. Pemandangan di desa ini sungguh indah, bukit-bukit yang berjejer, sawah milik warga yang membentang, serta karena terletak di ketinggian dapat terlihat pemandangan sebagian kabupaten Majalengka dari desa Haurseah. Selain alam yang indah, warga desa Haurseah ramah-ramah, hal yang membuat saya betah di desa ini. Kegiatan kami seperti mengunjungi balai desa, masjid, lokasi industri desa, maupun ke sekolah-sekolah membuat saya senang berada di desa ini. Namun, di balik segala keindahannya tentu ada yang menjadi masalah di desa Haurseah, sejauh yang saya lihat, salah satuya adalah masalah kebersihan. Kesadaran akan membuang sampah pada tempatnya masih kurang bagi warga Desa Haurseah, ditambah lagi dengan minimnya tempat sampah, baik umum maupun di rumah-rumah. Warga desa Haurseah sebenarnya ingin agar desanya bersih namun mereka bingung harus melakukan apa. Dari situlah saya berpikir apabila saya bagian dari warga, saya ingin mengajak warga untuk lebih sadar akan kebersihan lingkungan dimulai dari hal kecil seperti buang sampah pada tempatnya. Selain masalah kebersihan, ekonomi juga menjadi masalah di desa Haurseah, meski sepintas warga hidup berkecukupan dan nyaman, warga masih merasa pendapatan mereka kurang jika dibandingkan dengan hasil produksi mereka, warga desa Haurseah masih mengharapkan bantuan pemerintah. Untuk memecahkan masalah ini haruslah terlebih dahulu deteliti lebih lanjut sumber permasalahannya. Sebenarnya warga desa Haurseah telah nyaman dengan kehidupannya berdasarkan kearifan lokal setempat, akan tetapi nilai-nilai kearifan tersebut mulai bergeser kedudukannya, baik secara positif seperti mengenai keagamaan juga secara negatif di mana warga Haurseah menjadi lebih konsumtif akibat arus globalisasi.

            Saya dan teman-teman kelompok KKN desa Haurseah banyak belajar dari desa Haurseah. Kehidupan keagamaan di desa Haurseah sangat kuat, terdapat 6 masjid dan beberapa mushalla di lingkungan desa, mengingat luas wilayah yang tidak terlalu besar maka tidak heran jika desa Haurseah dikenal sebagai desa santri terlebih lagi hampir tiap masjid mendirikan pesantren tersendiri. Hal ini mengingatkan saya pentingnya kehidupan beragama dalam kehidupan. Hal lain yang saya dapatkan adalah kebersamaan warga yang tinggi, terutama di kalangan pemuda. Hal-hal kecil seperti olahraga dan kegiatan sehari-hari rupanya dapat memacu sportivitas dan kekeluargaan. Banyak hal baru yang saya saksikan di desa Haurseah yang saya harapkan dapat mengubah cara berpikir saya menjadi lebih baik setelah kegiatan KKN ini. Terima kasih desa Haurseah!