Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 September 2015

Summertime Ritual: Jogja 2015

Summer 2015, I decided to spent a holiday in Jogja. The city I've always wanted to spent my holiday long time ago. I've been there three times before visiting Jogja, however the first time was when I was I kid, while the second and the third time was just there for transiting. So, this 5-days-holiday was my fourth time in Jogja.

With Fadly

So, this is Fadly, my companion in Jogja. Fadly is a student of Universitas Gajah Mada, lived in Terban area in Jogja, so nothing to worry about the accomodation and transportation. We took train from Pasar Senen Station, Jakarta, and after 8 hour of rail trip we arrived Lempuyangan Station, Jogjakarta, at 5 AM. We took a rest for few hours at Fadly's place, had a breakfast, and then using motor scooter we went to Bantul area. First, we had a lunch at Depok Beach, we were tasting local seafood while our eyes looking to the sea and our ears hearing the waves. After having our senses pleasured, we went to Parangkusumo Sand Dunes, and watching sunset at Parangendog Hill. Those three tourist attractions are located in Parangtritis Beach area.

Seafood time!


 
Sunset at Parangkusumo

Another beaches time! The second day we managed to visit some beaches in Wonosari, southwestern of Jogja. But before that, we visited a place called Kebun Buah Mangunan in Imogiri. This is a popular photo spot for tourists, where you can see the hilly landscapes with a river splitting the hills from the heights. Simply beautiful. From Imogiri, we headed southwest to Wonosari, about 2 hours with motor scooter. We wanted to visit Nguyahan Beach, Ngobaran Beach, and Kukup Beach. But we need to race with the time, so we only went to Nguyahan Beach and Ngobaran Beach which is located next to each other. Nguyahan Beach was a calm beach where you can go for a swim or splash, while Ngobaran Beach was more extreme with big waves and steep hard rocks.
Selfie at Mangunan

Beach! Ngobaran 
Beach! Nguyahan

The next day, we met Fani, my college friend which coincidentally also in Jogja with her friends, Hafidz and Adrian. So I, Fadly, Fani, Hafidz, and Adrian, spent the day together, visiting some of historical sites in Jogja. We visited the historical Kraton Palace of Jogja and Taman Sari Water Castle. We also visited Ratu Boko Palace, which we can see a very beautiful sunset from the top. After the night came, we went to Bukit Bintang to had some light meals and close our day in Tugu area with kopi joss and "sego kucing", it translates to cat rice, but actually it was "rice in a portion for cats", it was really cheap, like with 10.000 Rupiahs you will get your stomach full.

Taman Sari Water Palace
Keraton
Ratu Boko
The famous Malioboro Street near Tugu Station

Fourth day! Still holiday! We went to jeJamuran restaurant, "Jejamuran" roughly translated to "everything is mushrooms". Like it's name, all of the menus here is made of mushrooms. It was a very good experience for mushroom lover like me, especially when I tasted Es Dawet with mushroom. We also visited Malioboro Street, my favorite street, shopping for souvenirs, and at night we ate gudeg at Gudeg Sagan Restaurant, not the best gudeg, but still delicious, I prefer the gudeg that I ate from street food stall in C. Simanjuntak Street the next day.

Mostly Mushrooms

Jogja has it all. Nature and culture. From highland landscapes to romantic beaches, from historical sites to cozy hangout place,
Jogja also has many tasty foods for gastro travelers out there. While I'm not into gastro traveling, but some of Jogja's food were really capturing my taste. Besides the tastiness of the foods, Jogja also, somehow, has nice ambience for your soul. Like eating roasted corn while seeing Jogja city lights from distance in Bukit Bintang, laughter and warmthness from friends when drinking Kopi Joss in the  angkringans, eating pecel in the middle of the crowd in  Beringharjo Market, also don't forget the seafood in  Depok Beach and the famously gudeg which can be found anywhere in Jogja.

Beautiful view from Kalibiru
Magical gamelan music
Tiwul
My favorite. Pecel at Beringharjo Market

So, my time in Jogja was lovely. Well, Jogja is lovely. Definitely will go back there.

Minggu, 23 Agustus 2015

Perjalanan Satu Hari Pangalengan - Rancabuaya

Rabu, 5 Agustus 2015. Bermodalkan keisengan dan kenekatan, Saya bersama teman saya Agung dan Ryan, memutuskan untuk pergi ke Pangalengan. Tujuan utamanya adalah hunting foto di perkebunan teh Pangalengan, Kabupaten Bandung, sekaligus mengunjungi obyek-obyek wisata yang berada di dekatnya.

Perjalanan dimulai dari pukul 4 pagi dari kost Agung di Dago, Bandung, menuju rumah Ryan di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Dari rumah Ryan, kami bertiga menggunakan mobil melewati Banjaran menuju Pangalengan. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Situ Cileunca. Kami beruntung sekali dapat menyaksikan matahari terbit dari balik danau kecil tersebut, lengkap dengan kabut tipis yang menyelimuti permukaan danau.


Sepanjang perjalanan mata kami dimanjakan dengan hijaunya kebun teh yang terbentang hampir di setiap sudut perbukitan. Kami sempat berhenti di suatu tanjakan dengan pemandangan kebun teh yang luas untuk berfoto kemudian melanjutkan lagi perjalanan ke sebuah villa di daerah Cukul, Pangalengan. Villa tersebut dinamakan Villa Merah. Villa tersebut dikelilingi kebun teh dan yang membuat spesial adalah kolam teratai yang ada di halamannya.



Setelah puas dengan perkebunan teh, kami memutuskan untuk mengunjungi Blue Lagoon Cisewu. Dari Cukul memerlukan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai di Blue Lagoon Cisewu. Blue Lagoon Cisewu merupakan sebuah kolam kecil yang dialiri air terjun kecil, terletak di pinggir jalan raya dari arah Pangalengan menuju Rancabuaya, air di sini berwarna biru jernih.


Merasa belum puas, akhirnya kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Pantai Rancabuaya yang terletak di selatan Kabupaten Garut. Menempuh jalan yang berkelok dan rawan longsor selama dua setengah jam akhirnya kami melihat laut dari kejauhan, itu dia Pantai Rancabuaya. Saat itu Pantai Rancabuaya sedang sepi karena memang bukan musim liburan. Pantai Rancabuaya memiliki pasir yang putih dan dihiasi batu-batuan karang di sepanjang pesisirnya. Dari saung-saung yang ada di sana kami melihat pemandangan laut, mendengarkan suara ombak yang menenangkan, di sini juga bisa terlihat kegiatan nelayan, anak-anak yang sedang bermain di pinggir pantai, juga warga setempat yang sedang memancing.


Akhirnya hari itu kami merasa puas dan memutuskan untuk pulang. Kami melalui jalur yang sama seperti tadi, via Pangalengan. Ketika sore hari jalanan cukup terasa menantang dikarenakan kabut tebal yang menghalangi jarak pandang, serta tikungan-tikungan tajam yang menuntut pengendara untuk berhati-hati. Meskipun lelah, tapi kami senang!

(All photos taken by Agung Dwi Prabowo)

Kamis, 21 Februari 2013

Kesan Haurseah (KKNM Unpad 2013)


            Saya selama bulan Januari – Februari ini mengikuti program wajib KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa) Unpad. Bersama teman-teman saya, baik teman yang sudah kenal sebelumnya maupun teman-teman baru mendapat lokasi KKN di desa Haurseah, kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Kami berangkat tanggal 15 Januari 2013 dari kampus Unpad Jatinangor. Setelah sekitar empat jam naik bus kami sampai di gerbang kecamatan, rupanya jalan menuju desa Haurseah masih sempit sehingga kami harus menyewa mobil pick up untuk dapat sampai di rumah tempat kami bakal tinggal sebulan ke depan. Rumah tempat kami tinggal adalah rumah milik warga desa, Pak Kirnan beserta istri dan anaknya yang tinggal di rumah tersebut namun selama kami menumpang, keluarga Pak Kirnan tinggal di rumah sebelah rumah kami. Rumah yang kami tempati sudah cukup modern, memiliki tiga kamar, dapur, kamar mandi, ruang tamu, dan ruang tengah yang luas. Walaupu rumah yang kami tempati cukup nyaman namun ada saja masalah bagi kami yang tidak biasa tinggal di desa, terutama masalah air dan sinyal untuk telepon seluler. Hari-hari pertama di desa Haurseah saya gunakan untuk mengenal desa dan warganya, seperti apa desa Haurseah? Bagaimana kehidupan dan kebiasaan warganya? Apa saja potensi desa? Serta membayangkan bagaimana jika saya menjadi penduduk desa Haurseah.

            Desa Haurseah terletak di kaki gunung Ceremai sehingga suhu udara di desa Haurseah dingin dengan kabut tebal yang sering menyelimuti desa. Pemandangan di desa ini sungguh indah, bukit-bukit yang berjejer, sawah milik warga yang membentang, serta karena terletak di ketinggian dapat terlihat pemandangan sebagian kabupaten Majalengka dari desa Haurseah. Selain alam yang indah, warga desa Haurseah ramah-ramah, hal yang membuat saya betah di desa ini. Kegiatan kami seperti mengunjungi balai desa, masjid, lokasi industri desa, maupun ke sekolah-sekolah membuat saya senang berada di desa ini. Namun, di balik segala keindahannya tentu ada yang menjadi masalah di desa Haurseah, sejauh yang saya lihat, salah satuya adalah masalah kebersihan. Kesadaran akan membuang sampah pada tempatnya masih kurang bagi warga Desa Haurseah, ditambah lagi dengan minimnya tempat sampah, baik umum maupun di rumah-rumah. Warga desa Haurseah sebenarnya ingin agar desanya bersih namun mereka bingung harus melakukan apa. Dari situlah saya berpikir apabila saya bagian dari warga, saya ingin mengajak warga untuk lebih sadar akan kebersihan lingkungan dimulai dari hal kecil seperti buang sampah pada tempatnya. Selain masalah kebersihan, ekonomi juga menjadi masalah di desa Haurseah, meski sepintas warga hidup berkecukupan dan nyaman, warga masih merasa pendapatan mereka kurang jika dibandingkan dengan hasil produksi mereka, warga desa Haurseah masih mengharapkan bantuan pemerintah. Untuk memecahkan masalah ini haruslah terlebih dahulu deteliti lebih lanjut sumber permasalahannya. Sebenarnya warga desa Haurseah telah nyaman dengan kehidupannya berdasarkan kearifan lokal setempat, akan tetapi nilai-nilai kearifan tersebut mulai bergeser kedudukannya, baik secara positif seperti mengenai keagamaan juga secara negatif di mana warga Haurseah menjadi lebih konsumtif akibat arus globalisasi.

            Saya dan teman-teman kelompok KKN desa Haurseah banyak belajar dari desa Haurseah. Kehidupan keagamaan di desa Haurseah sangat kuat, terdapat 6 masjid dan beberapa mushalla di lingkungan desa, mengingat luas wilayah yang tidak terlalu besar maka tidak heran jika desa Haurseah dikenal sebagai desa santri terlebih lagi hampir tiap masjid mendirikan pesantren tersendiri. Hal ini mengingatkan saya pentingnya kehidupan beragama dalam kehidupan. Hal lain yang saya dapatkan adalah kebersamaan warga yang tinggi, terutama di kalangan pemuda. Hal-hal kecil seperti olahraga dan kegiatan sehari-hari rupanya dapat memacu sportivitas dan kekeluargaan. Banyak hal baru yang saya saksikan di desa Haurseah yang saya harapkan dapat mengubah cara berpikir saya menjadi lebih baik setelah kegiatan KKN ini. Terima kasih desa Haurseah!


Selasa, 27 Maret 2012

That was so much fun, end of Java - Bali trip


Setelah sampe di Pelabuhan Ketapang kita dijemput papanya Tito, terus makan di warung nasi sebentar, baru balik ke rumah Tito. Sampe rumah Tito pada ngajakin nobar Manchester United vs. Liverpool, saya yang ga terlalu suka bola sih ngikut aja. Nobarnya di salah satu mal kecil di Banyuwangi, bareng temennya Tito, Axel. Pulangnya udah pada ngantuk langsung pada tidur, kecuali yang ga bisa tidur (lagi-lagi saya). Besoknya kereta jam 6 pagi udah berangkat dari Stasiun Karangasem Banyuwangi menuju Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Sampe di Lempuyangan sekitar jam 8 malem dan pas mau lanjut naik kereta api ekonomi ga taunya udah habis. Jadi deh kita jalan kaki ke Stasiun Tugu buat naik kereta bisnis. Kita yang nganggepnya liburan udah selesai jadi seneng lagi, lumayan jalan kaki di Jogja pada malam hari asik juga. Keretanya berangkat jam 11 malem jadi kita ada sekitar dua jam di Jogja. Di deket Stasiun Tugu kita makan nasi angkringan, murah dan kenyang. Sayang sih cuma bentar di Jogja, padahal kan pengen jalan-jalan dulu.

Perjalanan ke Bandung ga terasa, kebanyakan tidur karena udah pada cape, keretanya juga ga sumpek kayak ekonomi, ya lebih nyaman lah.. Akhirnya jam 8 pagi sampe Bandung, dijemput tetangganya Lucky dan langsung balik ke Jatinangor. Sampe Jatinangor pun saya tidur seharian, efek capeknya baru terasa. :)

Liburan kali ini asik banget. Semuanya have fun dan kita ga berhenti ketawa, kalo kata Ray mah ga perlu mushroom buat bikin mood kita naik. Walaupun sempet ada yang galau, bete, dan lain-lain, tapi semuanya malah bikin suasana jadi makin berkesan. Kapan lagi coba sekitar 10 hari bareng-bareng terus? Thanks Shanty yang suka marah-marah tapi tetep aja diceng-cengin,
Ray si big boss yang apa-apa nanyanya sama dia,
Rivan si empunya hajatan yang kerjaannya kalo ga telponan ya foto-foto sendirian,
Lucky si penunjuk jalan yang suka disangka turis Jepang,
Rifky si Mr. Galau yang biarpun lagi liburan tetep galau,
Mima si penyabar yang sabar banget sama kelakuan anak-anak yang lain,
dan Tito yang suka bikin gregetan tapi mau aja nampung kita semua!
Thanks juga temen-temennya Tito: Axel, Rama, Jedi, Ryan, Erwino, dan yang lain. That was so much fun!

Bali! Bali! Bali!

Hari Pertama
Penyebrangan dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk makan waktu kira-kira 45 menit. Saya excited banget, apalagi pas Pulau Balinya sudah kelihatan dari atas kapal. Sampe Gilimanuk, saya dan Rifky, yang sama-sama baru pertama ke Bali, langsung girang, padahal mah masih juga di pelabuhan, sampe megang-megangin rumputnya malah. Norak dasar, hahaha. Walaupun sempet ada insiden saya kepeleset di tangga pas mau turun kapal tapi tetep girang. Setelah diperiksain KTP di pelabuhan kita lanjut naik bus ke Denpasar. Di bus saya suka banget, liatin hutan, monyet, sawah, kadang kelihatan pantai. Suasana religiusnya berasa banget, bahkan di busnya sempat berhenti dulu terus kaca depannya dicipratin air sementara sang supir ibadah dulu.

Di Denpasar kita diturunin di Terminal Ubung. Dari sana kita nyarter angkot menuju Kuta. Sampe Kuta, Tito dan Lucky nyari hotel sementara sisanya ke pantai sambil masih pada bawa ransel, hahaha. Kita nginep di salah satu hotel di Poppies Lane 2, harganya lumayan 90ribu berdua. Hotelnya adem, gak AC, tapi pake kipas angin yang berisiknya kayak helikopter. Di luarnya ada semacam pendopo gitu, sebenernya sih buat tempat makan tapi kita aja yang sok tau jadiin pendoponya tempat ngumpul, ngobrol-ngobrol, main kartu, hahaha. Setelah di hotel bagi kamar, mandi, dan istirahat, kita mulai omongin mau ke mana. Dan malemnya kita makan warung nasi di seberang hotel, muterin jalan Legian sambil foto-foto, terus duduk-duduk di depan convenient store sambil cemal-cemil sampe tengah malem. Ternyata jam 12an udah pada sepi. Di hotel sepi, ga ada sinyal pula. Saya sekamar sama Rivan, ya udah kita ngobrol-ngobrol, tau-tau udah tidur aja.







Hari kedua
Pada bangun siang. Jam 11an kita ke pantai. Si Ray dipijit, Lucky sama Mima foto-foto, Rifky sama Rivan tau-tau udah berenang aja. Saya sama Shanty di pinggir-pinggir aja celup kaki sambil main pasir. Tapi lama-lama, byurrr, saya ikutan berenang juga. Ombaknya deres, lagi berendem tau-tau keseret ombak ke pinggir, kaki sampe lecet-lecet kena pasir. Puas main di pantai kita balik ke hotel, sorenya ke pantai lagi, berenang lagi, kali ini ombaknya tenang, jadi enak deh, juga sekalian liat sunset. Terus malemnya pada mau ke klub, ya udah kita ke MBarGo akhirnya, lumayan free entrance dan minumnya buy 1 get 1 free. Sayangnya kita datengnya kecepetan, ada deh kita nunggu sejam dua jam sampe akhirnya rame dan have fun sampe malem.










Hari ketiga
Hari ketiga kita ngerental mobil. Wuh, si Rifky yang dasarnya hobi bawa mobil seneng banget, baru pertama ke Bali langsung nyobain jalanannya. Pertama-tama kita ke Erlangga di Denpasar, beli oleh-oleh. Tempatnya luas, isinya macem-macem mulai dari gantungan kunci sampe lukisan, harganya murah-murah pula walaupun ga bisa ditawar. Di Erlangga ketemuan sama Rama, anak Universitas Udayana temennya Tito, terus doi gabung sama kita soalnya dia yang tau jalan. Kita ke daerah Uluwatu, pertama ke Pantai Padang-Padang, sebenernya pantainya oke banget banyak batu-batu karangnya gitu, pasirnya juga halus, tapi sayangnya pas kita dateng kurang beruntung banyak tumbuhan laut sama sampah yang keseret ombak, udah gitu untuk menuju pantai ini mesti turun tangga sempit, capek hahaha.

Abis dari Pantai Padang-Padang kita menuju ke kawasan Pura Luhur Uluwatu yang ternyata letaknya paling ujung Barat Daya Pulau Bali. Tempatnya di pinggir tebing yang bawahnya langsung laut. Di sini banyak monyet dan sunsetnya oke banget. Pas masuk kita dipakein kain gitu. Sayangnya kita ga sempet ke pura-nya soalnya keburu malem. Di sini kita juga bisa ngeliat performance Tari Kecak, tapi kalo ga salah bayar 100.000 atau 150.000, mahal...... Pas pulang mampir dulu di warung nasi terus sampe hotel si Tito kedatengan temen-temennya. Sementara Tito sibuk sama temen-temennya saya dan yang lain ke KFC Kuta soalnya bosen juga dari kemarin makannya nasi bungkus melulu, plus Rivan yang ditelponin mulu sama mamanya disuruh makan enak sekali-sekali. Hahaha













Hari keempat
Lucky sama Mima pagi-pagi udah ilang, katanya sih lagi belanja. Itu berdua udah kayak ibu-ibu pejabat, kerjaannya belanja mulu. Rencananya hari keempat ini kita mau balik ke Banyuwangi tapi ternyata masih pada betah. Terus kita pindah hotel, patungannya cuma beda lima ribu sama yang pertama, sekamar berempat tapi kamarnya ada AC terus hotelnya ada kolam renangnya. Hari terakhir ini agendanya bebas... Mau tidur seharian, mau berenang, mau ke pantai, terserah. Siang-siang berenang di hotel terus sorenya leha-leha duduk-duduk di pantai. Pas di pantai kita bikin istana pasir, si Lucky jago banget bikinnya sampe diliatin orang-orang. Terus ga lupa kita nikmatin sunset sambil foto-foto kocak. Di hotel malemnya lagi enak-enak tidur tiba-tiba mati listrik, mana ada angin besar pula, dan katanya di pantai lagi pasang plus ombak gede. Jadi deh malem itu kita mati gaya. Udah seneng-seneng dapet kamar AC taunya mati listrik juga.







Hari kelima
Hari terakhir di Bali. Hotelnya masih mati listrik sampe siang. Hari terakhir ini ga ngapa-ngapain. Check out jam 11, terus dianter Mas Sigit, kenalan di pantai, dianter sampe Terminal Ubung, Denpasar. Sampe sana naik bus ke Gilimanuk lanjut naik kapal ke Pelabuhan Ketapang. And we say goodbye to Bali! Thank you the Island of God.